Siang di bulan February 2008, tanpa sengaja, saya bertemu
dua manusia super. Mereka mahluk mahluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat.
Tepatnya diatas jembatan penyeberangan setia budi - Jakarta , dua sosok kecil
berumur kira kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastic
hitam. Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue diujung
jembatan, dengan keangkuhan khas
penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar-lebar
tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan “Terima
kasih Oom !”. Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan cuma mulai membuka
sedikit senyum seraya mengangguk kearah mereka.
Kaki - kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas
jembatan, menyapa seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak
kecil yang penuh keceriaan, laki laki itupun menolak dengan gaya yang sama
dengan saya, lagi-lagi sayup sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari
mulut kecil mereka.
Kantong hitam tampat stok tissue dagangan mereka tetap
teronggok disudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta . Saya melewatinya
dengan lirikan kearah dalam kantong itu, duapertiga terisi tissue putih
berbalut plastic transparan.
Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan
mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum diwajah
mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit
Jakarta .
“Terima kasih ya mbak .semuanya dua ribu lima ratus rupiah!”
tukas mereka, tak lama si wanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah
sepuluh ribu rupiah.
“Maaf, nggak ada kembaliannya. .ada uang pas nggak mbak ?”
mereka menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan
sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah mengamati
mereka bertiga pada jarak empat meter.
“Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan?” suaranya
mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka, saya Sedikit terhenyak
saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court
sebesar empat ribu rupiah.
“Nggak punya, tukas saya!” lalu tak lama si wanita berkata
“ambil saja kembaliannya, dik !” sambil berbalik badan dan meneruskan
langkahnya kearah ujung sebelah timur.Anak ini terkesiap, ia menyambar uang
empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan
meletakkannya segenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar
wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Si wanita
kaget, setengah berteriak ia bilang” sudah buat kamu saja,
nggak apa..apa ambil saja !”, namun mereka berkeras mengembalikan uang
tersebut. “maaf mbak, cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya
kembalikan !” Akhirnya uang itu diterima si wanita karena si kecil pergi
meninggalkannya.
Tinggallah episode saya dan mereka, uang sepuluh ribu
digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan
berujar ” Om , bisa tunggu ya, saya kebawah dulu untuk tukar uang ketukang
ojek!”.
“eeh .nggak usah ..nggak usah ..biar aja ..nih !” saya kasih
uang itu ke si kecil, ia menerimanya tapi terus berlari ke bawah jembatan
menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.
Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak
yang satunya, “Nanti dulu Om , biar ditukar dulu ..sebentar”
“Nggak apa apa , itu buat kalian” Lanjut saya “jangan
..jangan Om , itu uang om sama mbak yang tadi juga” anak itu bersikeras ” Sudah
..saya Ikhlas , mbak tadi juga pasti ikhlas ! saya berusaha membargain, namun
ia menghalangi saya sejenak dan berlari ke ujung jembatan berteriak memanggil
temannya untuk segera cepat, secepat kilat juga ia meraih kantong plastik
hitamnya dan berlari kearah saya.
” Ini deh om, kalau kelamaan , maaf ..” ia memberi saya
delapan pack tissue ” Buat apa ?” saya terbengong
“Habis teman saya lama sih Om , maaf, tukar pakai tissue aja
dulu ” walau dikembalikan ia tetap menolak.
Saya tatap wajahnya , perasaan bersalah muncul pada rona
mukanya . Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic hitam
tissuenya.
Beberapa saat saya mematung di sana , sampai sikecil telah
kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari
tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah.”Terima kasih Om !”..mereka
kembali keujung jembatan sambil sayup sayup terdengar percakapan ” Duit mbak
tadi gimana ..? ” suara kecil yang lain menyahut “lu hafal kan orangnya, kali
aja ketemu lagi ntar kita kasihin…” percakapan itu sayup sayup menghilang, saya
terhenyak dan kembali kekantor dengan seribu perasaan.
Tuhan ..Hari ini saya belajar dari dua manusia super,
kekuatan kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh, mereka
berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak
mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta-minta dengan berdagang
Tissue.
Dua anak kecil yang bahkan belum baligh , memiliki kemuliaan
diumur mereka yang begitu belia.
YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO. Engkau hanya
semulia yang kau kerjakan.
Saya membandingkan keserakahan kita, yang tak pernah ingin
sedikitpun berkurang rizki kita meski dalam rizki itu sebetulnya ada milik
orang lain.
“Usia memang tidak menjamin kita menjadi Bijaksana, kitalah
yang memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak”

No comments:
Post a Comment