Suatu hari, saya akan menuju suatu tempat. Saya harus
memilih kira-kira jalur mana yang akan saya lewati dan alat transportasi apa
yang akan saya gunakan. Apakah saya akan naik angkutan umum? Yang lewat tol
atau jalur lambat? Atau naik kereta yang cepat namun dapat dipastikan
terhimpit? Atau apa?
Dengan menggunakan pengetahuan yang saya miliki tentang
kondisi jalanan di Jakarta, saya memilih naik angkutan umum patas AC yang
jalurnya lewat tol (supaya tidak terlalu berdesak-desakan dan lebih cepat).
Namun ternyata saya salah. Apa yang saya prediksikan
bertolak belakang dari kenyataan. Tol macet total, penumpang penuh dan saya
akhirnya harus berdiri dan tiba di tujuan sangat telat. Kesal, sebal, bete dan
akhirnya menangis. Padahal saya sudah memilih dengan pemahaman medan terbaik,
bukan tanpa pengetahuan. Padahal saya sudah memilih dengan menggunakan
parameter-parameter islami. Tapi kok?
Tapi akhirnya saya menyadari, bahwa pilihan saya memang
salah. Salah dalam arti prediksi saya tidak tepat, bukan SALAH dalam arti
lawannya BENAR. Persepsi saya semula yang saya pikir akan memberikan prediksi
yang mendekati benar karena berlandaskan pengetahuan yang cukup, ternyata masih
kurang. Hal ini membuat saya makin sadar, bahwa pengetahuan saya sangat sedikit.
Membuat saya makin tahu, begitu banyak yang di luar control dan kemampuan
manusia.
Namun toh, setidaknya saya telah mengambil pilihan dan
menjalaninya dengan sadar. Kalau ternyata hasil dari pilihan itu tidak seperti
yang saya harapkan saat mengambil keputusan, itu adalah konsekuensi yang harus
saya terima. Tak perlu menyesal apalagi merutuki diri dan orang lain. Bukan
tidak mungkin, ada sesuatu yang tidak saya tahu, menjadi hikmah dari kejadian
di luar kontrol itu tadi.

No comments:
Post a Comment